
Kota Jambi (24/5). Suasana haru dan semangat keimanan yang membara menyelimuti Masjid Tawakkal, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi hari ini. Ratusan warga LDII yang berdatangan dari berbagai penjuru wilayah Kota Jambi berkumpul memenuhi majelis, menghadiri acara pembinaan dan nasihat keagamaan yang penuh makna mendalam. Acara istimewa ini menghadirkan Penasihat Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) LDII Jambi, KH Nur Hamid Hadi, S.Pd., yang membawakan materi inspiratif mulai dari kisah nyata kehidupan sehari-hari hingga pelajaran agung tentang hakikat pengorbanan dan ketaatan kepada Allah SWT.
Membuka penyampaiannya dengan nada yang menyentuh hati, KH Nur Hamid Hadi langsung mengajak seluruh hadirin merenungi sebuah kisah nyata yang sangat memotivasi. Beliau menceritakan perjalanan hidup seorang penjual cilok sederhana. Dengan pekerjaan yang tampak biasa dan sering dianggap remeh, lelaki itu justru menjalaninya dengan ketekunan luar biasa, kejujuran, dan kesabaran tanpa henti. Berkat kerja keras dan selalu menyisihkan sebagian rezekinya di jalan Allah, akhirnya Allah SWT melimpahkan karunia besar kepadanya. Sang pedagang kecil itu pun mampu mewujudkan impian terbesarnya: menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci.
“Kisah ini adalah bukti nyata, sekecil apa pun pekerjaan kita, sesederhana apa pun kehidupan kita, jika dijalani dengan tekun, ikhlas, dan selalu berpegang pada aturan Allah, maka keberkahan pasti akan menyertai. Bahkan cita-cita yang tampak jauh pun bisa tercapai atas izin-Nya,” ujarnya, membuat seluruh jamaah terngiang dan semakin bersemangat menjalani hidup.

Masuk ke pokok bahasan utama, pemateri mengulas makna sesungguhnya dari ibadah Qurban. Menurutnya, qurban bukan sekadar tradisi menyembelih hewan atau membagikan daging kepada sesama. Lebih dalam dari itu, qurban adalah sarana latihan keikhlasan sejati, di mana Allah SWT menguji hamba-Nya untuk rela melepaskan dan mengorbankan sesuatu yang paling kita cintai—baik itu harta, waktu, kenyamanan, maupun kepentingan pribadi—semata-mata demi meraih ridho-Nya.
“Inti qurban adalah kemampuan kita untuk mendahulukan Allah di atas segala-galanya. Ketika kita rela melepaskan apa yang kita sayangi demi perintah-Nya, di situlah letak pengorbanan yang sesungguhnya,” tegasnya.
Pembahasan semakin mendalam dan seru saat beliau mengangkat kisah bersejarah dalam Al-Quran tentang peristiwa Raja Tholut dan Raja Jalut. Dikisahkan, Allah mengutus Tholut untuk memimpin Bani Israil, namun pada awalnya banyak dari mereka yang menolak dan meragukannya karena hanya menilai dari pandangan mata dan logika manusiawi semata.
Puncak kisah penuh makna terjadi saat pasukan Tholut bergerak menuju medan perang menghadapi pasukan Jalut yang sangat besar dan kuat. Di tengah perjalanan, mereka sampai di sebuah sungai. Raja Tholut memberikan perintah tegas: “Kalian boleh minum air sungai ini hanya satu cawuk saja, atau satu teguk saja, tidak boleh lebih.”

Namun, kenyataannya sebagian besar pasukan merasa tidak puas. Mereka mengikuti logika dan keinginan diri sendiri, berpikir bahwa satu teguk tidak cukup menghilangkan dahaga, lalu akhirnya minum sepuas hati. Akibatnya, mereka yang mengabaikan perintah dan tidak taat itu kehilangan kekuatan, semangat, dan tidak mampu melanjutkan perjuangan, sehingga gugur di tengah jalan. Hanya mereka yang patuh dan menundukkan keinginan diri di bawah perintah pemimpinlah yang mampu bertahan dan akhirnya memenangkan pertempuran besar itu.
Dari kisah agung itu, Bapak Nur Hamid Hadi menarik kesimpulan emas: “Ketaatan itu pasti berbuah keberkahan, berbuah hasil yang manis. Ketaatan akan membawa manfaat nyata dan keberkahan hidup, baik saat kita berada dalam keadaan enak, mudah, dan ringan, maupun saat kita sedang menghadapi masa sulit, berat, dan penuh cobaan.”

Di akhir penyampaiannya, suasana terasa semakin khusyuk dan penuh haru. Bapak H. Nur Hamid Hadi, S.Pd. menutup nasihatnya dengan mengajak seluruh warga LDII Kota Jambi untuk menjadikan ilmu yang didapat hari ini sebagai amalan nyata. Mulai dari meneladani ketekunan si penjual cilok, berlatih ikhlas berqurban dengan melepaskan apa yang dicintai demi Allah, hingga menjaga ketaatan dalam segala keadaan, baik saat ringan maupun berat. Acara pun ditutup dengan doa bersama, meninggalkan tekad yang makin membara di dada setiap jamaah untuk senantiasa mendahulukan Allah di atas segalanya, di mana pun dan kapan pun berada.(Aqil).
DPW LDII Provinsi Jambi Website Resmi DPW LDII Provinsi Jambi