Pengajian Rutin DPD LDII Kota Jambi Bahas Salat Istiska, Jamaah Diajak Perkuat Ibadah di Tengah Kemarau

Kota Jambi (27/9). Ratusan warga LDII Kota Jambi dan sekitarnya mengikuti pengajian rutin yang digelar Dewan Pimpinan Daerah (DPD) LDII Kota Jambi di Masjid Tawakal, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Minggu (27/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB tersebut membahas salat istiska, yakni salat yang dilaksanakan sebagai bentuk ikhtiar dan permohonan kepada Allah SWT agar diturunkan hujan. Kajian tersebut disampaikan Ustaz Zainal Nuraidin, S.Pd., Gr., yang juga merupakan Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPW LDII Provinsi Jambi.

Dalam kajiannya, Zainal menjelaskan bahwa kemarau panjang tidak hanya berdampak pada ketersediaan air bagi masyarakat, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta munculnya kabut asap yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, khususnya di luar ruangan.

Menurutnya, pelaksanaan salat istiska bukan sekadar permohonan turunnya hujan, tetapi juga menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan introspeksi dan memperbanyak istigfar atas dosa serta kesalahan yang telah diperbuat.

“Dalam salat istiska, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah memohon pengampunan atas segala dosa dan kesalahan. Kita harus yakin bahwa Allah memberikan pengampunan kepada hamba-Nya yang bertobat. Orang iman tidak boleh berputus asa,” ujar Zainal dalam kajiannya.

Ia juga mengingatkan jamaah agar tetap memiliki keyakinan terhadap rahmat dan ampunan Allah SWT. Ia mengutip sebuah hadis yang menjelaskan bahwa sebesar apa pun dosa seorang hamba, selama bersedia bertobat, Allah SWT tetap membuka pintu ampunan.

Kajian kemudian dilanjutkan dengan tausiah oleh Ketua Dewan Penasihat DPW LDII Provinsi Jambi, KH Nur Hamid Hadi, S.Pd. Ia memperkuat materi yang disampaikan Ustaz Zainal dengan mengangkat kisah Sahabat Nabi, Umar bin Khattab, mengenai sikap seorang mukmin dalam menghadapi musibah.

KH Nur Hamid menjelaskan, Umar bin Khattab tetap mampu bersyukur ketika menghadapi musibah karena menyadari bahwa ujian tersebut tidak menyangkut agama, melainkan urusan dunia. Selain itu, musibah yang dialami manusia saat ini masih dapat dipandang ringan dibandingkan berbagai ujian yang pernah menimpa umat terdahulu.

“Musibah yang menimpa kita bukan musibah yang berkaitan dengan agama, tetapi urusan dunia, sedangkan dunia itu kecil. Kita juga masih diberi kesempatan untuk bersabar. Dengan kesabaran itu, insyaallah ada pahala yang kita dapatkan dari musibah tersebut,” tutur KH Nur Hamid.

Ia mengajak jamaah agar menghadapi kondisi sulit, termasuk kemarau panjang, dengan memperbanyak kesabaran, introspeksi, doa, dan meningkatkan kualitas ibadah. Menurutnya, kondisi apa pun yang dihadapi hendaknya menjadi pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Pada kesempatan tersebut, KH Nur Hamid secara khusus mengingatkan jamaah untuk menertibkan dan memperbaiki pelaksanaan ibadah wajib, terutama salat lima waktu. Ia menekankan bahwa perbaikan kualitas kehidupan hendaknya dimulai dari pembenahan hubungan manusia dengan Allah SWT.

“Perbaikilah salatmu, maka Allah akan memperbaiki kehidupanmu,” pesannya kepada jamaah.

Pengajian rutin tersebut diharapkan tidak hanya menjadi sarana menambah pengetahuan keagamaan, tetapi juga mendorong warga LDII untuk menerapkan nilai-nilai yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah kondisi kemarau panjang, jamaah diajak memperkuat ikhtiar, memperbanyak doa dan istigfar, serta tetap menjaga kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *