
Kota Jambi (8/11). Pembentukan karakter generasi muda tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan intelektual, tetapi juga harus dibarengi dengan akhlak dan kepribadian yang luhur. Hal inilah yang terus ditekankan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) melalui pembinaan generasi penerus (generus), salah satunya dengan menanamkan enam tabiat luhur sejak usia dini.
Pesan tersebut mengemuka dalam pengajian rutin ba’da Subuh yang digelar di Masjid Tawakkal, RT 08, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Minggu (8/11/2026). Kegiatan yang diikuti ratusan jemaah tersebut didominasi kalangan generasi muda, dengan jumlah mencapai sekitar 80 persen dari total peserta.
Pengajian menghadirkan Ustaz Eko Dwi Prasetyo dari Tebing Tinggi, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Dalam tausiyahnya, ia mengingatkan pentingnya pembinaan generasi penerus yang dilakukan secara terarah, berjenjang, dan berkesinambungan. Pembinaan tersebut mencakup seluruh kelompok usia, mulai dari PAUD dan caberawit, praremaja, hingga remaja usia nikah.
Menurut Eko, pembinaan generus tidak hanya berorientasi pada peningkatan pengetahuan agama, tetapi juga membentuk kebiasaan dan karakter positif yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu fondasi yang perlu ditanamkan adalah enam tabiat luhur, yakni jujur, amanah, mujhid-muzhid, rukun, kompak, dan kerja sama yang baik.

“Seluruh generasi penerus harus terus dibina dan diarahkan agar memiliki enam tabiat luhur. Nilai-nilai tersebut merupakan bagian dari akhlakul karimah yang harus ditanamkan sejak dini sehingga menjadi karakter dan kebiasaan dalam kehidupan mereka,” tegas Eko di hadapan jemaah.
Ia menjelaskan, enam tabiat luhur bukan sekadar materi yang dipahami saat mengikuti pengajian, melainkan nilai yang harus dipraktikkan dalam berbagai situasi. Baik ketika menjalankan ibadah kepada Allah SWT maupun saat berinteraksi dengan keluarga, teman, guru, dan masyarakat.
“Enam tabiat luhur harus menjadi kebiasaan setiap jemaah dalam kehidupan sehari-hari. Tidak hanya ketika berada di lingkungan pengajian, tetapi juga di mana pun, kapan pun, dan dalam keadaan apa pun. Dengan demikian, karakter tersebut benar-benar melekat dalam diri setiap individu,” tambahnya.
Eko juga menekankan bahwa keberhasilan pembinaan generasi muda membutuhkan konsistensi dan keterlibatan semua pihak. Keluarga, lingkungan pendidikan, serta masyarakat memiliki peran penting dalam menciptakan suasana yang mendukung tumbuhnya generasi berakhlak mulia.
Menariknya, suasana pengajian pagi itu tidak hanya berlangsung satu arah. Eko mengajak seorang remaja bernama Khalid, siswa kelas VII, untuk maju ke depan dan berbagi pengalaman mengenai penerapan enam tabiat luhur dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi tersebut memberikan ruang bagi generasi muda untuk menyampaikan pemahaman sekaligus pengalaman mereka secara langsung.

Ada pula kebiasaan unik yang diterapkan pengurus Masjid Tawakkal untuk menjaga kenyamanan jemaah selama kegiatan berlangsung. Beberapa pemuda ditugaskan berdiri menghadap ke arah peserta guna membantu menjaga suasana tetap kondusif.
Ketua Pengurus Masjid Tawakkal, H. Achiyar Rosidi, S.Sy., menjelaskan bahwa kebiasaan tersebut merupakan bentuk kepedulian pengurus terhadap kenyamanan jemaah. Mengingat sebagian besar peserta telah memulai aktivitas ibadah sejak sepertiga malam, kondisi mengantuk terkadang tidak dapat dihindari saat mengikuti pengajian ba’da Subuh.
“Setiap kegiatan nasihat, terutama ba’da Subuh, kami menugaskan beberapa pemuda untuk berdiri menghadap jemaah. Karena sebagian besar jemaah sudah memulai aktivitas ibadah sejak sepertiga malam, tentu ada yang mulai mengantuk. Kehadiran petugas ini membantu menyegarkan suasana melalui pijitan ringan sehingga jemaah dapat kembali fokus menyimak nasihat,” jelas Achiyar.
Bagi kalangan generasi muda, pengajian tersebut menjadi kesempatan untuk mendapatkan pemahaman sekaligus motivasi dalam memperbaiki diri. Khalid mengaku mendapatkan pelajaran berharga, terutama mengenai pentingnya berbuat baik kepada orang lain.
“Saya semakin memahami mengapa kita selalu diingatkan untuk berbuat baik kepada teman, guru, dan siapa pun. Ternyata, perbuatan baik bukan sekadar sikap terpuji, tetapi juga merupakan bagian dari ibadah yang memiliki nilai pahala di sisi Allah,” ungkap Khalid.
Pembinaan karakter melalui penanaman enam tabiat luhur tersebut menjadi salah satu upaya LDII dalam menyiapkan generasi muda yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan, moral, dan spiritual. Nilai-nilai tersebut juga sejalan dengan kebutuhan bangsa dalam membangun sumber daya manusia unggul dan berkarakter menuju Indonesia Emas.
Melalui pengajian rutin dan pembinaan yang berkesinambungan, LDII Jambi Selatan berharap generasi penerus tidak hanya tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tetapi juga memiliki akhlak mulia, kemandirian, serta kepedulian sosial. Dengan bekal karakter yang kuat, generasi muda diharapkan mampu memberikan kontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara. (Ayr)
DPW LDII Provinsi Jambi Website Resmi DPW LDII Provinsi Jambi