Di Balik Musibah Ada Hikmah, KH Nur Hamid Hadi Ajak Jamaah Teladani Umar bin Khattab

Kota Jambi (28/9). Musibah tidak selalu harus dipandang sebagai sesuatu yang buruk. Bagi seorang mukmin, setiap ujian dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesabaran, introspeksi, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pesan tersebut disampaikan Ketua Dewan Penasihat DPW LDII Provinsi Jambi, KH Nur Hamid Hadi, S.Pd., saat menjadi pembicara utama dalam pengajian rutin DPD LDII Kota Jambi di Masjid Tawakal, Kelurahan Wijaya Pura, Kecamatan Jambi Selatan, Kota Jambi, Minggu (27/9/2026).

Pengajian yang berlangsung pukul 09.30 hingga 11.30 WIB itu diikuti ratusan warga LDII Kota Jambi dan sekitarnya. Kegiatan tersebut mengangkat pembahasan tentang salat istiska sebagai salah satu bentuk ikhtiar dan doa umat Islam dalam memohon turunnya hujan di tengah kondisi kemarau.

Sebelum tausiah KH Nur Hamid Hadi, materi mengenai salat istiska disampaikan Ustaz Zainal Nuraidin, S.Pd., Gr., yang juga merupakan Biro Pendidikan Keagamaan dan Dakwah (PKD) DPW LDII Provinsi Jambi. Ia mengajak jamaah menjadikan kemarau sebagai momentum untuk memperbanyak istigfar, bertobat, dan memperbaiki kualitas ibadah.

Dalam tausiah utamanya, KH Nur Hamid Hadi kemudian memperluas pembahasan dengan mengajak jamaah melihat musibah dari sudut pandang keimanan. Ia mengangkat kisah Sahabat Nabi, Umar bin Khattab, sebagai teladan bagaimana seorang mukmin menyikapi ujian yang datang dalam kehidupan.

Menurut KH Nur Hamid, Umar bin Khattab mengajarkan bahwa seorang mukmin tetap dapat menemukan alasan untuk bersyukur ketika menghadapi musibah. Sebab, selama ujian tersebut tidak menyangkut agama, masih terdapat ruang bagi seorang hamba untuk bersabar, memperbaiki diri, dan mengambil hikmah dari keadaan yang dihadapi.

“Musibah yang menimpa kita bukan musibah yang berkaitan dengan agama, tetapi urusan dunia, sedangkan dunia itu kecil. Kita juga masih diberi kesempatan untuk bersabar. Dengan kesabaran itu, insyaallah ada pahala yang kita dapatkan dari musibah tersebut,” tutur KH Nur Hamid.

Ia menjelaskan, cara pandang tersebut penting diterapkan dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk kondisi kemarau panjang yang saat ini berdampak terhadap ketersediaan air dan aktivitas masyarakat. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta kabut asap.

KH Nur Hamid mengingatkan agar keadaan tersebut tidak hanya dilihat dari sisi kesulitannya. Lebih dari itu, kemarau dapat menjadi momentum bagi umat Islam untuk melakukan evaluasi terhadap diri sendiri, memperbanyak doa dan istigfar, serta meningkatkan kualitas ibadah.

“Kalau kita mendapatkan musibah, jangan hanya melihat beratnya musibah. Lihat juga hikmah yang ada di baliknya. Bisa jadi Allah sedang mengingatkan kita agar lebih dekat kepada-Nya, lebih banyak berdoa, lebih banyak beristigfar, dan memperbaiki amal ibadah,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga memberikan perhatian khusus terhadap pelaksanaan salat lima waktu. Menurutnya, pembenahan kehidupan seorang muslim harus dimulai dari pembenahan hubungan dengan Allah SWT melalui ibadah yang wajib.

“Perbaikilah salatmu, maka Allah akan memperbaiki kehidupanmu,” pesannya.

KH Nur Hamid menekankan bahwa salat bukan sekadar kewajiban yang harus ditunaikan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam membentuk ketenangan dan keteguhan seorang mukmin ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan.

Ia pun mengajak jamaah untuk tidak berputus asa dari rahmat Allah SWT. Kesulitan, kemarau, maupun berbagai musibah yang datang hendaknya dihadapi dengan sabar, doa, ikhtiar, dan tetap menjaga kepedulian kepada sesama.

“Yang penting bagi kita adalah tetap sabar, tetap berdoa, memperbanyak istigfar dan memperbaiki ibadah. Jangan sampai musibah justru menjauhkan kita dari Allah. Sebaliknya, jadikan musibah sebagai jalan untuk semakin dekat kepada Allah,” ujarnya.

Pengajian rutin tersebut menjadi momentum bagi warga LDII Kota Jambi untuk memperkuat pemahaman keagamaan sekaligus melakukan refleksi atas kondisi yang dihadapi masyarakat. Pesan KH Nur Hamid diharapkan dapat mendorong jamaah untuk melihat setiap ujian dengan sikap yang lebih bijak, sembari terus melakukan ikhtiar dan menjaga kepedulian terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar.

Melalui keteladanan Umar bin Khattab, jamaah diajak memahami bahwa di balik setiap musibah selalu terdapat ruang untuk mengambil pelajaran. Kesabaran, introspeksi, doa, dan perbaikan ibadah menjadi bekal penting agar setiap ujian tidak berlalu tanpa makna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *