Bukan Sekadar Ngaji, Ibu-Ibu Paal Lima Padati Kajian Surah An-Nisa, Bahas Peran Perempuan sebagai Tiang Keluarga

Kota Baru (10/5). Suasana Masjid Al-Hamid di Kelurahan Paal Lima, Kecamatan Kota Baru, Kota Jambi, terasa berbeda pada Sabtu malam (9/5/2026). Puluhan ibu-ibu berkumpul tak hanya untuk mengisi waktu luang, melainkan haus akan ilmu agama. Pengurus Anak Cabang (PAC) LDII setempat menggelar pengajian spesial kaum ibu yang berlangsung dari pukul 18.30 hingga 19.30 WIB, diikuti oleh 20 peserta dengan antusiasme tinggi.

Pengajian kali ini mengangkat kajian mendalam tentang Surah An-Nisa ayat 34, yang dibawakan oleh pemateri utama, Ustaz Puji Aritman. Alih-alih sekadar membaca terjemahan, Ustaz Paji mengupas tuntas ayat tentang kepemimpinan laki-laki atas perempuan, serta tanggung jawab nafkah lahir batin yang sering disepelekan.

“Ayat ini sering disalahpahami seolah-olah suami boleh semena-mena. Padahal, kepemimpinan itu amanah berat. Seorang suami baru layak memimpin kalau dia memberikan nafkah dan melindungi istrinya. Sementara untuk istri yang nusyuz, Islam mengajarkan langkah bertahap: dulu dengan nasihat lembut, lalu pisah ranjang yang mendidik, bukan dengan kekerasan. Ini sangat manusiawi,” jelas Ustaz Paji di hadapan peserta yang menyimak dengan khusyuk.

Usai pemaparan, Ketua Takmir Masjid Al-Hamid, Ustaz Qurrota Akyum, menyelipkan pesan penyejuk tentang etika sosial. Dengan nada ringan namun penuh makna, ia mengingatkan para ibu agar tidak terjerumus ke dalam ghibah (bergunjing) atau mencari-cari kesalahan tetangga.

“Ibu-ibu sekalian, Allah tegas melarang kita saling menghina dan berprasangka buruk. Kadang kita lupa, asyik ngobrol di arisan lupa waktu, eh bahas ini itu. Ini rambu penting biar masyarakat tetap rukun,” ujar Ustaz Qurrota disambut gelak kecil para jamaah.

Para peserta mengaku mendapatkan penyegaran rohani sekaligus ruang untuk saling terbuka. Lebih lanjut, Qurota menyebut bahwa pembinaan ibu-ibu adalah investasi jangka panjang.

“Ibu itu madrasah pertama anak-anaknya. Kalau ibunya paham agama dan sabar, keluarganya insyaallah kuat. Kami tidak mau kegiatan ini sekadar seremonial. Ini bekal nyata,” tuturnya dengan penuh semangat.

Senada dengan itu, Arini, salah satu peserta, menambahkan bahwa kajian seperti ini langka karena menyentuh akar masalah rumah tangga. “Biasanya ceramah tentang surga dan neraka saja. Tapi ini tentang peran istri yang realistis. Kami jadi lebih paham hak dan kewajiban,” katanya.

Arini yang mengikuti pengajian dari awal hingga akhir mengaku bersyukur. “Awalnya capek habis masak, tapi begitu duduk di sini, hati adem. Selain dapat ilmu, saya jadi kenalan banyak ibu-ibu sekitar rumah ternyata baik semua. Semoga kegiatan ini rutin terus,” ungkap Arini sambil tersenyum.

Kegiatan yang ditutup dengan doa bersama ini diharapkan mampu mencetak generasi berakhlak mulia, dimulai dari perempuan-perempuan Paal Lima yang menjadi pilar ketahanan keluarga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *