Menikah Ibadah, Bukan Sekadar Tradisi: Pengajian LDII Sungai Gelam Ingatkan Keutamaan Pernikahan di Era Modern

Muaro Jambi (1/8). Puluhan warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Kecamatan Sungai Gelam memadati Masjid Al-Mansurin, Desa Mingkung Jaya, pada Sabtu malam (1/8/2026). Mereka hadir dalam pengajian rutin yang mengangkat tema krusial di tengah gempuran arus modernitas: “Keutamaan Menikah dan Kewajiban Suami Istri dalam Pernikahan”.

Hadir sebagai penceramah utama, Dewan Penasihat PC LDII Kecamatan Sungai Gelam, H. Wawan Hermanto, menyampaikan materi yang tidak hanya menyentuh aspek ritual, tetapi juga sosial dan psikologis kehidupan berumah tangga.

“Menikah itu bukan sekadar formalitas atau seremoni adat. Salah satu tujuannya yang sangat fundamental adalah untuk menghindarkan diri dari pelanggaran, baik oleh laki-laki maupun perempuan, termasuk perbuatan zina,” tegas H. Wawan di hadapan jamaah yang tampak serius menyimak.

Mengutip Surat An-Nisa ayat 3 dan Surat Ar-Rum ayat 21, pria yang akrab disapa Wawan itu menjelaskan bahwa pernikahan adalah sunnatullah yang mengandung ketenangan, kasih sayang, dan rahmat. Namun, ia mengingatkan bahwa proses menuju pernikahan pun harus dilandasi oleh prinsip-prinsip syariah yang benar.

“Menikah itu harus sama-sama ridho. Tidak boleh ada paksaan dari pihak mana pun. Begitu pula dalam urusan mahar atau mas kawin, jangan sampai memberatkan. Itu semua adalah bentuk penghormatan kepada calon istri dan keluarga,” imbuhnya.

Tak hanya membahas hukum, H. Wawan juga mengutip sejumlah hadits shahih riwayat Muslim dan At-Tirmidzi yang memperkuat argumentasinya tentang tanggung jawab suami sebagai pemimpin rumah tangga dan istri sebagai mitra dalam membangun keluarga sakinah.

Acara yang digelar ba’da Maghrib hingga selesai itu dibuka dengan pembacaan Tilawatil Qur’an yang menggema di ruang utama masjid. Lantunan ayat suci menjadi pembuka yang syahdu, menandai dimulainya malam keilmuan yang penuh berkah.

Ketua PAC LDII Desa Mingkung Jaya, Rofi’i, menyampaikan harapan besar agar kegiatan serupa dapat berjalan konsisten setiap bulannya.

“Kami ingin pengajian ini menjadi oase ditengah kesibukan duniawi. Setiap bulannya, insya Allah, kami akan suguhkan materi-materi yang tidak hanya menarik dan kreatif, tetapi juga relevan dengan tantangan zaman yang terus berkembang,” ujar Rofi’i kepada awak media usai acara.

Ia menjelaskan bahwa tema pernikahan kali ini sengaja diangkat untuk membentengi generasi muda agar tidak mudah terpengaruh oleh kerusakan zaman akhir yang semakin kompleks. Di tengah maraknya pergaulan bebas dan nilai-nilai hedonisme, penguatan pemahaman tentang pernikahan dini dan ideal menjadi prioritas.

Menutup rangkaian acara, H. Taslim memimpin doa bersama. Namun, sebelum untaian doa dilantunkan, ia menyempatkan diri memberikan nasihat kepada seluruh jamaah yang hadir.

“Kita sudah mendapatkan ilmu tentang pernikahan. Namun, jangan sampai kita lalai terhadap kewajiban utama kita kepada Allah. Ingatlah, amalan pertama yang akan ditanya oleh Allah pada hari kiamat nanti adalah sholatnya hamba,” pesan H. Taslim dengan suara lantang.

Ia mengingatkan agar seluruh jamaah senantiasa tertib melaksanakan sholat berjamaah di masjid ketika adzan sudah berkumandang. Menurutnya, kemuliaan sholat berjamaah tidak bisa ditukar dengan kenikmatan duniawi sesaat.

Kegiatan yang berlangsung khidmat ini sekaligus menjadi ajang silaturahmi antar warga LDII se-Kecamatan Sungai Gelam. Dari anak muda hingga orang tua, mereka terlihat akrab berbincang dan bertukar pikiran, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat di malam minggu itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *