
Muaro Jambi (24/10). Kesabaran menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk pribadi muslim yang tangguh, taat, dan berakhlak mulia. Pesan itulah yang disampaikan Ustaz Zaidan dalam tausiyah ba’da Magrib di Aula Pondok Pesantren Tawakkal Sebapo, Desa Sebapo, Kecamatan Mestong, Kabupaten Muaro Jambi, Sabtu (24/10/2026).
Di hadapan para santri, Ustaz Zaidan mengajak mereka membiasakan diri untuk bersabar dalam berbagai keadaan. Menurutnya, kesabaran bukan sekadar kemampuan menahan diri ketika menghadapi kesulitan, melainkan juga keteguhan hati untuk terus menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya.
Dalam tausiyah tersebut, ia menekankan tiga bentuk kesabaran yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni sabar menghadapi musibah, sabar dalam mengerjakan perintah Allah, serta sabar dalam menjauhi larangan-Nya.
“Ada tiga bentuk kesabaran yang perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, yakni sabar menghadapi musibah, sabar dalam mengerjakan perintah Allah, serta sabar dalam menjauhi larangan-Nya,” jelas pria yang sempat menimba ilmu di pondok pesantren Wali Barokah Kediri itu.
Ketiga hal itu menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter santri. Ketika menghadapi musibah, seorang muslim hendaknya tidak mudah berputus asa. Sementara itu, dalam menjalankan ibadah dan ketaatan, diperlukan kedisiplinan serta keteguhan hati agar tetap istiqamah. Begitu pula dalam menjauhi larangan Allah, dibutuhkan pengendalian diri dan komitmen untuk tidak terjerumus dalam perbuatan dosa.

Selain mengingatkan pentingnya kesabaran, Ustaz Zaidan juga mengajak para santri untuk senantiasa menjaga keimanan dengan memperbanyak mengingat akhirat, termasuk azab neraka sebagai peringatan agar lebih berhati-hati dalam bertindak.
Ia menekankan bahwa seorang muslim perlu menjauhi dosa dan berbagai bentuk pelanggaran terhadap ketentuan agama. Kesadaran akan pertanggungjawaban setiap perbuatan di hadapan Allah diharapkan dapat mendorong seseorang untuk lebih menjaga perilaku, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah.
“Seorang muslim perlu menjauhi dosa dan berbagai bentuk pelanggaran terhadap ketentuan agama. Kesadaran akan pertanggungjawaban setiap perbuatan di hadapan Allah diharapkan dapat mendorong seseorang untuk lebih menjaga perilaku, memperbaiki diri, dan meningkatkan kualitas ibadah,” tegas pria kelahiran Banyuwangi itu.
Pesan tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa menuntut ilmu di pondok pesantren tidak hanya berkaitan dengan penguasaan ilmu agama, tetapi juga pembentukan akhlak dan kebiasaan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui tausiyah ba’da Magrib ini, pondok pesantren yang bekerjasama dengan DPW LDII Provinsi Jambi dalam menyusun kurikulum pendidikan, berharap para santri mampu menjadikan kesabaran sebagai pegangan dalam menghadapi ujian kehidupan, menjalankan kewajiban agama dengan penuh kesungguhan, serta menjaga diri dari perbuatan yang dilarang Allah SWT.
Dengan membiasakan tiga bentuk kesabaran tersebut, santri diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang beriman, berakhlak mulia, dan mampu menerapkan nilai-nilai agama, baik di lingkungan pesantren maupun ketika kembali ke tengah masyarakat.
DPW LDII Provinsi Jambi Website Resmi DPW LDII Provinsi Jambi