Dari Tilawah ke Kerajinan Tangan, Generus LDII Ramaikan Masjid Tawakal dengan Konsep “Should Be Fun”

Muaro Jambi (11/8). Ratusan generasi penerus (Generus) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) dari Kabupaten Muaro Jambi dan Kabupaten Batanghari mengikuti pengajian bertajuk “Should Be Fun” di Masjid Tawakal, Desa Mekarsari Makmur, Kecamatan Sungai Bahar, Kabupaten Muaro Jambi, Ahad (9/8/2026).

Kegiatan tersebut dirancang tidak hanya untuk memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga untuk mengasah kreativitas dan menumbuhkan jiwa kemandirian di kalangan pemuda. Melalui kemasan yang interaktif dan menyenangkan, peserta mendapat pembinaan spiritual sekaligus ruang untuk mengembangkan potensi diri secara seimbang.

Dalam pengajian itu, Dewan Penasihat DPD LDII Kabupaten Muaro Jambi, H. Chairudin Said, memberikan nasihat agama sebagai penguatan mental bagi para peserta. Ia menekankan pentingnya akhlak mulia, ketahanan mental, serta peran strategis generasi muda sebagai penerus bangsa yang berkarakter.

“Generasi muda saat ini harus kokoh secara spiritual dan kreatif dalam berkarya. Jangan sampai kemajuan zaman membuat mereka kehilangan jati diri. Saya berharap melalui kegiatan seperti ini, adik-adik Generus bisa menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, dan siap bersaing secara positif,” ujar H. Chairudin Said di hadapan para peserta.

Sesi pengajian Al-Qur’an dan tausiah tersebut mendapat sambutan hangat dari peserta. Namun, yang membuat kegiatan ini istimewa adalah adanya sesi kreatif berupa pembuatan kerajinan tangan (handy craft). Aktivitas ini menjadi ajang bagi generus untuk melatih ketelitian, mempererat kerja sama antarpeserta, serta mengasah kemandirian melalui keterampilan praktis.

Arif, salah satu Panitia, yang juga mewakili pengurus Generus LDII setempat, menyampaikan bahwa konsep “Should Be Fun” sengaja diangkat untuk menghilangkan kesan kaku dalam kajian keagamaan.

“Kami ingin membuktikan bahwa pengajian tidak harus selalu serius dan membosankan. Dengan konsep fun learning, anak-anak muda bisa menyerap nilai-nilai agama sekaligus mengembangkan kreativitas mereka melalui praktik membuat kerajinan. Ini adalah investasi karakter untuk masa depan mereka,” ungkapnya saat ditemui di sela-sela acara.

Salah satu peserta, Fulan (17), mengaku sangat antusias mengikuti rangkaian kegiatan tersebut. Menurutnya, sesi kerajinan tangan menjadi pengalaman baru yang menyenangkan.

“Saya biasanya hanya mendengarkan ceramah, tapi kali ini saya juga bisa belajar membuat gantungan kunci dari manik-manik. Seru banget dan nggak bikin ngantuk. Saya jadi lebih semangat datang ke pengajian,” tutur Fulan dengan ceria.

Dengan hadirnya beragam sesi interaktif tersebut, panitia berharap kegiatan seperti ini dapat menjadi wadah pembinaan generasi muda yang holistik, menjadikan mereka pribadi yang religius, kreatif, dan mandiri di tengah dinamika zaman. (Arif)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *